Jemput Bola (Jebol) Pelayanan Adminduk di kampung Nurawi Distrik Poom

banner 120x600

Kedatangan Tim Jemput Bola Administrasi Kependudukan (Jebol Adminduk) menuju Pulau Miosindi (kampung Nurawi) distrik Poom menjadi lembar kenangan tak terlupakan bagi para petugas Dukcapil Kepulauan Yapen.

Miosindi, pulau kecil nan terpencil yang terletak di bagian terluar Yapen, bukan sekadar titik koordinat di peta melainkan saksi bisu semangat pengabdian tanpa batas bagi para pejuang penginput biodata dan kartu keluarga .

Dengan menembus gelombang laut, melewati angin dan terik matahari, tim Jebol melangkah mantap. Tentu bukan  karena medan yang mudah dan pulaunya yang indah , melainkan karena panggilan hati untuk memastikan bahwa tak satupun warga negara tercecer dari hak dasarnya yakni  identitas kependudukan.

Di tanah yang jarang disinggahi layanan publik itu, terlihat senyum anak-anak, sambutan hangat para lansia, dan antusias warga menjadi penyemangat yang tak ternilai.

Setiap dokumen yang diterbitkan adalah jembatan harapan untuk akses pendidikan, kesehatan, hingga bantuan sosial. Perjalanan ke Miosindi bukan sekadar tugas.

Ia adalah perwujudan nyata dari semboyan “Negara Hadir,” dan bukti bahwa sejauh apapun warga tinggal, layanan Dukcapil akan tetap menjangkau mereka.  

Menurut Data Konsolidasi Bersih (DKB) jumlah Penduduk Kabupaten Kepulauan Yapen Semester 2 tahun 2024, penduduk Kampung Nurawi Distrik Poom  berjumlah 226 jiwa yang terdiri dari 113 penduduk berjenis kelamin laki-laki, dan 113 penduduk yang berjenis kelamin perempuan.

Sedangkan jumlah Kepala Keluarga (KK) sebanyak 53 KK, dengan demikian kampung Nurawi merupakan kampung yang paling sedikit jumlah penduduknya di Distrik Poom.yang secara keseluruhan berjumlah  4.116 jiwa.

Komunitas masyarakat yang kecil ini membentuk hubungan sosial yang sangat erat, dengan budaya gotong royong dan nilai kekeluargaan yang masih sangat kental terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Dari sisi geografis, Kampung Nurawi memiliki keunikan tersendiri karena menempati sebuah pulau yang bernama Miosindi.

Meskipun secara administratif wilayah ini cukup luas, namun hanya sebagian kecil dari wilayah tersebut yang ditempati atau dimanfaatkan secara aktif oleh penduduk, sementara sisanya masih berupa kawasan alami sepeerti hutan dan semak belukar, pesisir dan lahan belum dikembangkan.

Lokasinya yang relatif terisolasi membuat akses ke kampung ini memerlukan waktu dan usaha lebih dibandingkan kampung-kampung lainnya.

Keadaan geografis ini menjadi tantangan sekaligus potensi. Tantangan karena keterbatasan akses dan layanan publik, namun juga menyimpan potensi sumber daya alam yang besar jika dikelola secara berkelanjutan.

Oleh karena itu, pendekatan pembangunan di Kampung Nurawi harus mempertimbangkan kondisi geografis pulau dan skala komunitas yang kecil, agar intervensi yang dilakukan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.