Kami bukan datang membawa janji,
Tapi hadir membawa arti.
Di balik bukit, di tepian laut biru,
Langkah kami menuju perkampungan baru.
Dengan bekal harapan dan alat rekam,
Kami ketuk pintu-pintu sunyi yang lama diam.
Mencatat nama, merekam wajah,
Agar tak ada lagi jiwa yang dianggap musnah.
Bukan hanya akta atau selembar kartu,
Ini adalah pengakuan bahwa kau adalah satu.
Bahwa negara mengenalmu, memanggilmu: warga,
Tak lagi asing di tanah pusaka.
Jejak kami mungkin akan hilang di tanah basah,
Namun dokumen yang kami tinggalkan akan tinggal lama.
Tinggal di tangan-tangan rakyat kecil,
Sebagai tanda bahwa mereka tak lagi kecil di mata negeri ini.







